Pada saat ini, pemerintah Indonesia telah menerapkan era kenormalan baru, yang bertujuan untuk mengaktifkan kembali sektor-sektor kehidupan yang mati akibat kebijakan lockdown oleh pemerintah. Namun kebijakan ini mengalami banyak sekali pro dan kontra. Pihak yang pro kebijakan, beralasan bahwa ini adalah kebijakan yang dapat mengembalikan kondisi seperti sebelum pandemi, tetapi dengan menerapakan protokol kesehatan dalam beraktifitas. Disisi lain pihak yang kontra akan kebijakan beralasan bahwa kebijakan ini terlalu cepat diambil oleh pemerintah indonesia, karena pada saat ini kurva pasien positif corona masih tetap bergerak keatas atau meningkat.
Forsmawi Surabaya sebagai organisasi kemahasiswaan melakukan kegiatan diskusi online pada tanggal 15 Agustus 2020, yang mana kegiatan ini merupakan sebagai bentuk kontRibusi kepada masyarakat umum. Diskusi online kemarin mengangkat tema “Sikap Pemuda dalam Menanggapi Pro dan Kontra Kebijakan New Normal pada Masyarakat”. dipilihnya topik ini karena dengan pemikiran kritis dan inovatifnya maka generasi muda khususnya mahasiswa harus menjadi Agent of Change, menjadi tokoh pergerakan pada pandemi ini.
Diskusi online forsmawi Surabaya #2 ini, mengundang 2 narasumber milenil. Yang pertama forsmawi surbaya mengundang Kak Sri Kurnia Abdi Pradhana atau biasa dipanggil mas Kurnia, dia merupakan presiden Bem UNESA pada tahun 2018/2019 dan kak Arya Satya Rajanagara, ia adalah dokter muda FK UNAIR. Pada kesempatan diskusi kemarin acara dipandu oleh mas Rofadan Mina Arsyada, mahasiswa hukum FH UNAIR 2018. Diskusi yang dilakukan kemarin berjalan seru, pembawaan materi oleh narasumber dengan gaya milenial dan santai, sehingga acaranya berjalan dengan lancar.
Pada acara diskusi kemarin ada beberapa poin-poin penting yang dapat diambil oleh peserta diskusi, seperti kutipan dari mas Kurnia yang mengatakan bahwa “Pandemi ini secara tidak langsung menuntut kita untuk membawa inovasi di daerah masing-masing. Kita sebagai pemuda harus bisa menjadi agent of change, pemuda yang berguna dan berdaya bagi masyarakat”. dengan pola pikir yang lebih terbuka dan modern, pola pikir yang dimiliki oleh generasi muda, memiliki potensi untuk menciptakan inovasi-inovasi yang beguna pada masyarakat terkhusus pada selama pendemi ini.
Maupun kutiban kedua yang berasal dari pernyataan dari mas Arya, yang mengatakan bahwa “Dalam situasi pandemi seperti sekarang, potensi untuk meningkatkan kepedulian harusnya lebih tinggi. Tergantung bagaimana cara kita melihat peluang dan jlan untuk tetap peduli kepada sesama”.
Dengan kebijkan yang diambil oleh pemerintah untuk belajar daring maka ini merupakan sebuah kesempatan bagai para generasi muda khususnya meraka yang belajar di luar daerah untuk kembali dan berkontribusi pada daerah kelahiram mereka. Peluang kontribsi pada era kenormalan baru ini masih sangat banyak yang dapat dilakukan oleh geneerasi muda seperti, pemberikan pengetahuan atau wawasan pada masyarakat sekitar, tetang bahaya covid dan pengunaan protokol kesehatan pada aktivisas sehari-hari. Karena litersi kesehatan akan bahaya covid-19 tidak tersosialissikan pada masyarakat secara luas, sehingga masyarakt abai terhadap pemakaaian protokol kesehatan dalam sehri-hari.
Berdasarkan hasil dari diskusi dengan 2 pemateri ini, dapat diambil garis besar bahwa pada pandemic ini generasi muda harus menjadi pelopor atau agent of change dalam masyarakat, dengan pemikiran yang lebih kritis dan inovatif, maka sepatutnya generasi muda khususnya mahasiswa untuk untuk berkontribsu pada masyarakat sekitarnya dan juga dan juga sebagai implikasi dari nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tnggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar